Tuesday, 14 June 2016

OBATI HATI KALIAN

Obati hati kalian dari mengagungkan sesuatu yang tidak di agungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena semua itu menyebabkan kehinaan di hari Kiamat. Dan Akan mendengar seruan panggilan memanggil yang mana semua makhluk mendengar :

"Orang ini telah mengagungkan sesuatu yang tidak di agungkan oleh Allah…!"

Maka berjatuhan daging yang ada di wajahnya karena sangatnya malu.

Mudah-mudahan Allah menghapus musibah-musibah dalam hati dan keluarga kita. Yaitu rasa cinta kepada orang kafir yang tidak pernah sekalipun dahi mereka sujud kepada Allah.

Ya Allah jadikan Sayyidina Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat juga ahlil bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi idola kami dan keluarga kami.. Ya Allah..

Sayyidina Al Habib Umar bin Hafidz

Monday, 30 May 2016

KATA-KATA HIKMAH

Dari Habib Ali Zaenal Abidin Al-Hamid pilihan hati.

" Orang yang niat untuk berbuat baik tapi esoknya tak jadi buat, Allah catat satu pahala baginya.

Kalau orang yang niat untuk membuat jahat tapi esoknya tak jadi buat, Allah akan catatkan satu pahala, kerana meninggalkan perbuatan tercela itu.."

" Carilah hikmah dalam segenap perkara yang kita kerjakan. Hanya dengan itu, diri kita akan tersenyum dan terus tersenyum, meskipun kita diuji dengan ujian yang tidak pernah dipikul oleh sesiapa pun di dunia ini..."

"Jika kita sabar dan bertaqwa pasti diberikan kemenangan oleh Allah swt. Kerana kemenangan ialah dari Allah swt bukannya kerana kekuatan senjata dan bilangan tentera yang ramai.."

JIka kamu tahu apa yang Allah beri disebalik masalah yang dihadapi. Nescaya, kamu akan berharap supaya hidup ini bermasalah sahaja kerana yang disimpan oleh Allah adalah lebih baik dari apa yang diberi.."

Tuesday, 24 May 2016

NAFSU YANG TERSEMBUNYI

Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik, kisah Imam Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3  dari kota Basrah, Iraq. Beliau bercerita :
Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah.
Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang isteri dan seorang anak.
Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.
Maka aku bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku.

Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan keadaanku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: “Berikan makanan ini kepada keluargamu.”
Di tengah perjalanan pulang,
aku berselisihan dengan seorang wanita faqir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku.
Dengan nada yang sayu dia memohon:
“Wahai Tuan, anak yatim ini belum makan, tak terdaya terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit diri.
Tolong beri dia sesuatu yang boleh dia makan.
Semoga Allah Ta'ala merahmati Tuan.”
Sementara itu, si anak menatapku tekun dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat.

Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dalam khayalan ukhrawi, seolah-olah syurga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.
Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. “Ambillah, beri dia makan”, kataku pada si ibu.
Demi Allah, padahal waktu itu tak sesen pun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat memerlukan makanan itu.

Spontan, si ibu tak dapat membendung air matanya(menangis) dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama.
Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah kakiku,
sementara beban hidup terus bergelutan dipikiranku.
Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah.
Dalam posisi seperti itu, tiba-tiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatangiku.
“Hei, Abu Muhammad...!
Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?”, tanyanya.

"Masyaallah....!”,
jawabku terkejut.
“Dari mana datangnya?”
“Tadi ada lelaki datang dari Khurasan.
Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya.
Dia membawa berduyun-duyun kenderaan barang penuh berisi harta,” ujarnya.
“Jadi?”, tanyaku kehairanan.
“Dia itu dahulu saudagar kaya di Basrah ini. Kawan ayahmu, dulu ayahmu pernah memberikan kepadanya harta yang telah
ia kumpulkan selama 30 tahun.
Lantas dia rugi besar dan bangkrap.
Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu. Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan.
Di sana, keadaan ekonominya beransur-ansur baik.

Bisnesnya meningkat jaya.
Kesulitan hidupnya perlahan-lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan.
Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu.
Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berniaga dan ingin berikan semuanya kepadamu,
berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”

Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya:
“Kalimah puji dan syukur kepada Allah Ta'ala  meluncur dari lisanku".
Sebagai bentuk syukur.
Segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi.
Aku menyantuni dan menanggung hidup mereka seumur hidup.
Aku pun terjun di dunia perniagaan seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal solih.

Adapun hartaku, terus bertambah melimpah ruah tanpa berkurang.
Tanpa sedar, aku merasa TAKJUB dengan amal solihku.

Aku MERASA, telah MENGUKIR lembaran catatan malaikat dengan hiasan AMAL KEBAIKAN. Ada semacam HARAPAN PASTI dalam diri, bahawa namaku mungkin telah TERTULIS di sisi Allah Ta'ala dalam daftar orang-orang SOLIH.

Suatu malam, tidur dan bermimpi.
Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat.
Aku juga lihat, manusia bagaikan berombak lautan.

Aku juga lihat, badan mereka membesar.
Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memikul dosa-dosa itu masing-masing di punggungnya.
Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memikul di punggungnya beban besar seukuran kota Basrah,
isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yang menghinakan.
Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan dan tiba giliranku untuk perhitungan amal.

Seluruh amal burukku diletakkan di salah satu sisi timbangan,
sedangkan amal baikku di sisi timbangan yang lain.

Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku..!
Tapi ternyata, perhitungan belum selesai.
Mereka mulai meletakkn satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan.
Namun alangkah ruginya aku.
Ternyata dibalik semua amal itu terdapat "NAFSU TERSEMBUNYI".

Nafsu tersembunyi itu adalah riya', ingin dipuji, merasa bangga dengan amal solih.
Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang terlepas dari nafsu-nafsu itu. Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari seksa neraka.

Tiba-tiba, aku mendengar suara,
“Masihkah orang ini punya amal baik?”
“Masih...”,
jawab suara lain. “Masih berbaki ini.”
Aku pun menjadi tidak tentu, amal baik apakah gerangan yang masih berbaki?
Aku berusaha melihatnya.
Ternyata, itu HANYALAH dua LEMBAR ROTI isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.
Habis sudah harapanku...

Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sebinasanya.
Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku,
sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah dan itu tidak berguna sedikit pun.
Aku merasa benar-benar tertipu habis-habisan.
Segera 2 lembar roti itu diletakkan di timbanganku.
Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak
turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sehingga lebih berat sedikit dibandingkan timbangan keburukkanku.
Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku.

Iaitu berupa AIR MATA wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah.
Air mata tak terbendung yang mengalir kala tersentuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.
Sungguh tak terbayang, saat air mata itu diletakkan, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus memberat.
Hingga akhirnya aku mendengar suatu suara berkata,
“Orang ini selamat dari seksa neraka...!

Masih adakah terselit dalam hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh orang lain pada ibadah dan amal-amal kita..????!!!

Allahuakbar!!! aku bermohon kehadrat Allah Tuhan Pemilik Hari Pembalasan agar diriku, keturunanku juga sahabat²ku semua dijauhkan dari sifat dan juga amal dari Nafsu Yang Tersembunyi.

Sumber tazkirah telah kupetik dari kitab"KISAH TAULADAN"
"Ar-Rafi’i dalam  Qalam (2/153-160)".

semoga bersama kita beroleh manfaat.

Selamat beramal dan beristiqomah

Oleh Abu Musoddiq

Sunday, 22 May 2016

Kitaran Hidup..

Ketika umur kita bawah 10 tahun, kita percaya bahawa bermain merupakan perkara sangat penting. Sebab itu kita suka bermain. Pagi petang siang malam mahu bermain.

Ketika umur kita belasan tahun pula, kita merasakan kebebasan itu lebih penting. Sebab itu kita ingin menyuarakan pendapat sendiri. Ingin suara didengari. Kita banyak memberontak dan sedikit keras kepala. Kita menjadi degil dan tidak mahu mendengar kata.

Beranjak kepada umur 20-an, kita berasakan pendidikan dan kerjaya pula penting. Sebab itu kita belajar bersungguh-sungguh untuk memperoleh kerjaya yang setimpal. Kadang-kadang kita berasa menyesal tidak belajar bersungguh-sungguh dahulu. Melihat kawan-kawan mendapat pekerjaan yang baik kita berasa cemburu. Alangkah ruginya kita mempersiakan hidup sebelum ini.

Meningkat kepada umur 30-an, kita semakin sedar bahawa kewangan itu pula penting. Masa inilah kita sedang membina hidup. Membina keluarga. Ingin membeli kereta,  rumah, tanah, aset, melancong dan sebagainya.

Namun akhirnya, kita akur tatkala memasuki fasa 40-an. Bahawa perkara yang paling penting dalam hidup ialah kesihatan. Kekayaaan dan lain-lain tidak bermakna dengan tahap kesihatan yang tidak memuaskan. Pada masa ini darah tinggi, kencing manis, jantung sakit  dan lain-lain sedang cuba melamar. Masa inilah kita menyesal kerana sibuk dengan kerjaya sehingga lupa untuk bersenam, menjaga kesihatan ketika umur remaja dan meningkat dewasa.

Memasuki era 50-an, tatkala kita sudah memiliki semua impian, akhirnya kita sedar bahawa perkara yang lagi penting dalam hidup ialah kasih sayang. Kita sedikit kesunyian tatkala anak-anak sudah berkahwin dan tinggal di tempat lain. Anak-anak yang sibuk dengan kerjaya menjadikan kita rindu saat-saat indah bersama mereka di usia kecil. Rumah banglo besar, kereta besar seakan-akan tidak lagi bermakna. Rumah besar kosong dan sunyi sepi.

Kehidupan mesti diteruskan. Tatkala memasuki usia 60-an, kita semakin sedar bahawa hanya amal ibadat perkara yang cukup bermakna sebagai bekalan menuju ke sana. Segala kemewahan dan kebendaan tidak lagi bermakna. Kubur bakal menjemput bila-bila masa. Rumah hampir setiap hari menyatakan selamat tinggal. Mujurlah Tuhan masih membuka pintu dan menerima taubat yang kita pohon.

Demikianlah kitaran hidup. Kanak-kanak akan menjadi remaja. Remaja akan menjadi dewasa. Dan dewasa akan melangkah ke alam usia emas. Usia hanyalah pinjaman. Dunia hanyalah pinjaman. Amatlah rugi jika kita mempersiakan hidup dengan perkara yang merugikan dan melalaikan. Terlibat dengan gejala dadah, berkawan dengan rakan yang melalaikan, atau terlalu sibuk dengan kebendaan.

Hidup ini hanya sementara kawan. Kejarlah akhirat sebelum tertiarap. Dunia juga penting. Kerana dengan dunialah kita akan ke akhirat. Semoga kita semua kekal dalam keberkatan, keredaan dan kasih sayang Tuhan.

Kembali Kepangkuan Allah SWT

Ayat-ayat Qur'an yang memujuk Wahsyi (atau sesiapa sahaja yang berdosa) agar kembali ke pangkuan Allah

Sejarah Islam merekam syahidnya paman Nabi Muhammad, Sayyidina Hamzah radhiyallahu'anhu sebagai peristiwa memilukan. Di perang Uhud, ujung tombak menembus dadanya. Hindun pemimpin golongan kaum kafir kegirangan karena orang suruhannya berhasil melakukan tugas dengan baik dan berjanji menghadiahkan kebebasan bagi sang pembunuh yang adalah seorang budak. Wahsyi bin Harb namanya. Rasullah sallallahu'alaihi wasallam mengalirkan airmatanya yang suci atas peristiwa pedih yang menimpa pamannya di jalan Allah itu.

Tentang Wahsyi bin Harb, Qaatilu Hamzah (pembunuh Hamzah) ini, Muhammad Yusuf al-Kandahlawi dalam kitab agung Hayatush Shahabah menuturkan kisahnya untuk kita.

Setelah Rasul dan kaum muslimin berhasil membebaskan kota Mekkah (Fathu Makkah), Rasul mulia sallallahu'alaihi wassalaam mengutus sahabatnya untuk menemui Wahsyi dan mengajaknya memeluk agama Allah. Wahsyi datang menemui Rasul dan berkata,

”Wahai Muhammad, bagaimana engkau mengajakku untuk berislam sedang engkau menyatakan bahwa sesungguhnya orang yang membunuh, musyrik atau berzina akan mendapatkan dosa besar dan siksanya akan dilipat gandakan di hari kiamat, dan ia kekal didalamnya dalam keadaan terhina, padahal aku ini melakukan semua itu? Maka adakah engkau menemukan celah keringan bagi diriku ini?”

Untuk pernyataan Wahsyi ini turun ayat Allah,

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

( Qs. Al-Furqan ayat 70)

Berkata kembali Wahsyi dengan nada mengeluh,

”Ya Muhammad Hadza Syarthun Syadid (Ini syarat yang amat berat). Aku takut kalau seandainya aku tidak mampu memenuhi syarat tersebut.”

Allah kemudian menurunkan ayat 48 surat an-Nisa’:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِ ماً

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar

(Qs. Annisa’ ayat 48).

Wahsyi masih saja menimpali,

“Wahai Muhammad, ayat tadi menurutku berkenaan dengan kehendakNya sedang aku tidak mengerti apakah Tuhanmu akan mengampuniku atau tidak, Adakah ayat lain yang selain tadi?”

Maka kemudian turun lagi ayat alQuran al-Karim:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

(Qs Al-Zumar ayat 53 )

Baru kemudian Wahsyi menyatakan,

“Hadza Na’am (yang ini, iya aku menerima)" .

Ia memeluk agama Allah dan menjadi Muslim. Orang-orang kemudian berkata,

“Sesungguhnya kita mengalami apa yang dialami oleh Wahsyi.”

Rasul sallallahu'alaihi wasallam menegaskan,

”Hiya lilmuslimina ‘ammah (hal itu untuk ummat Islam seluruhnya).”

Kisah ini menegaskan betapa pemurahnya Allah terhadap hamba- hambaNya.

Dalam hadits qudsi bahkan ditegaskan bahwa rintihan para pendosa yang bertaubat lebih disenangi Allah dari deru suara tasbih para hamba yang memujiNya. Pantaslah jika kasih sayang Allah jauh melampai amarahNya dan bahkan kasih sayangNya meliputi siapapaun saja hatta pendosa besar seperti Wahsyi.

Jikalau Wahsyi yang berlumur dosa besar dipanggil mesra oleh Allah untuk kembali pulang (taubat) kepangkuanNya, maka itupun pasti berlaku bagi kita semua.

Memasuki awal Ramadhan ini marilah kita bersimpuh dihadapanNya, mengakui segala dosa dan hina diri untuk berjanji pulang dan mengubur semua nista itu untuk berharap pasti ampunan dan maafNya. Jika dosa-dosa yang membalut diri kita membuat kita menjadi ulat yang menjijikkan, semoga dengan taubat, ibadah dan amal sholeh didalam bulan suci Ramadhan ini, kita mampu merubah diri menjadi kupu-kupu indah di idul fitri nanti.

Selamat kembali ke pangkuan Allah Ar-Rahman ar-Rahim.

Thursday, 19 May 2016

Rahsia Yang Ditutup Rapat-Rapat

1. Jodoh

Tiada siapa tahu siapa jodoh kita dan boleh tentukan siapa jodoh kita. Tak guna kita fikir sedalam-dalamnya macam mana berjumpa jodoh dan bila berjumpa jodoh. Kenapa eh? Lagi banyak kita fikir lagi pening dan lost lah kita. Kenapa eh? Jodoh itu rahsia yang ditutup rapat-rapat. Oleh sebab itu, banyak berdoa pada Allah dan yakinlah bahawa jodoh yang ditentukanNya pasti yang terbaik dan pada masa yang kita dah bersedia dan mampu memikul tanggungjawab rumahtangga. Setiap hari sedekahkan al-fatihah dan doa yang terbaik buat bakal jodoh. Jadilah yang solehah, dapatlah nanti suami yang soleh. Yang dah bertemu jodoh, peliharalah ia dengan iman dan ihsan. Hiaskan perkahwinan itu dengan kasih sayang.

2. Rezeki

Rezeki pun rahsia yang ditutup rapat-rapat. Ada orang cacat tubuh badan dan derianya tapi, mampu membina empayar yang besar. Ada orang usaha satu hari, esok dah berjaya. Belajar main-main tapi result gempak. Baca sekali dah hafal and faham. Ada orang sempurna tubuh badan, satu kerja pun susah nak buat.Ada orang pula kerja bagai nak gila, masih sama. Belajar pagi petang siang malam, result biasa2. Baca berpuluh puluh kali pun susah nak faham. Kejayaan,keluarga, harta, ketenangan dan banyak lagi adalah rahsia Allah. Sebab tu bila kita rasa kita boleh menentukan rezeki kita, otak boleh jadi gila dan rasa nak pecah. Bila kita rasa kita boleh tentukan rezeki kita, hati tak tenang dan selalu dalam kerisauan. Rezeki kita, Allah yang tentukan. Yakin lah orang berusaha pasti berjaya. Hidup susah itu bukan selamanya.Orang bijaksana belajar daripada kesalahan. Orang bersyukur tenang hatinya. Rezeki itukan rahsia Allah. Apa yang kita dapat hari ini adalah yang terbaik untuk membersihkan hati dan selalu bersyukur.

3. Ajal Maut

Sakit bukan punca meninggal dunia. Ada orang sakit kronik, hidup bertahun-tahun. Ada yang sihat walafiat, meninggal dalam tidur. Hidup mati itu rahsia Allah yang ditutup rapat-rapat. Selagi hidup, usahalah menjaga kesihatan dan kehidupan yang dipinjamkan Allah dengan bersungguh-sungguh kerana pastinya ajal akan menjemput di mana sahaja dan pada bila-bila masa. Fikirkan kematian dan dosa sudah cukup untuk buatkan kita menjadi insaf kerana syurga dan neraka itu benar. Semoga diberikan pengakhiran yang terbaik di syurga.

Tuesday, 17 May 2016

QS. Luqman : Ayat 33

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِيْ وَالِدٌ عَنْ وَّلَدِهٖ  ۖ   وَلَا مَوْلُوْدٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَّالِدِهٖ شَيْــئًا    ؕ  اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ
Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kamu, dan takutilah akan hari (akhirat) yang padanya seseorang ibu atau bapa tidak dapat melepaskan anaknya dari azab dosanya, dan seorang anak pula tidak dapat melepaskan ibu atau bapanya dari azab dosa masing-masing sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar, maka janganlah kamu diperdayakan oleh kehidupan dunia, dan jangan pula kamu diperdayakan oleh bisikan dan ajakan Syaitan yang menyebabkan kamu berani melanggar perintah Allah.
[QS. Luqman: Ayat 33]